Photobucket

Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified

Upacara Pernikahan Adat Cirebon

Cirebon terletak di pesisir utara perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah yang pernah mengalami masa kejayaan sebagai salah satu pusat perkembangan Islam di Pulau Jawa. Ditunjang posisi geografisnya, Cirebon memiliki kekayaan budaya yang beragam dengan keunikan dan daya tarik tersendiri. Peninggalan kejayaan Cirebon di masa silam masih dapat dirasakan hingga saat ini. Sebagai kota pelabuhan yang memiliki akses ke dunia luar membuat kota ini mendapat pengaruh dari budaya Cina dan Arab yang dapat dilihat dalam seni dan budaya masyarakatnya, termasuk dalam tata cara pernikahan. Seperti halnya adat pengantin Jawa, awal dari seluruh upacara ialah acara lamaran. Sewaktu melamar pihak calon mempelai pria membawa sebilah keris untuk melambangkan kesetiaan, juga keperluan dapur lengkap. 

Berikut adalah tahapannya:

Njegog atau tetali (meminang)
Utusan pihak pria datang ke rumah orangtua gadis dan menyampaikan maksud kedatangannya meminang. Ibu si gadis akan memanggil anaknya untuk dimintai persetujuan. Si gadis bbmemberikan jawaban disaksikan utusan tersebut. Setelah mendapat jawaban, utusan dan orangtua si gadis langsung berembug menentukan hari pernikahan. Setelah ada kesepakatan, utusan mohon diri untuk menyampaikan kepada orangtua pihak pria.

Seserahan
Pada hari seserahan, orangtua gadis didampingi keluarga dekatnya menerima kedatangan utusan pihak pria yang disertai rombongan pembawa barang seserahan, antara lain buah-buahan, umbi-umbian, sayur-mayur, pembawa mas picis yaitu mas kawin berupa perhiasan dan uang untuk diserahkan kepada orangtua gadis.

Siram tawandari
Kedua calon pengantin oleh juru rias dibawa ke tempat siraman (cungkup) dengan didampingi orangtua dan sesepuh. Saat berjalan menuju tempat siraman dengan iringan gending nablong, calon pengantin memakai sarung batik khas Cirebonan yakni kain wadasan. Biasanya berwarna hijau yang melambangkan kesuburan. Sebelum siraman, dada dan punggung calon pengantin diberi luluran lalu juru rias mempersilakan orangtua dan sesepuh untuk bergantian menyirami. Setelah selesai, air bekas siraman diberikan kepada anak gadis dan jejaka yang hadir dengan maksud agar mereka dapat segera mengikuti jejak calon pengantin. Upacara ini dinamakan bendrong sirat yaitu air bekas siraman disirat-siratkan atau dipercik-percikkan pada anak gadis dan jejaka yang datang ke acara ini. Apabila calon pengantin masih merupakan keturunan dari Keraton Kacirebonan biasanya sebelum acara pernikahan dilaksanakan, calon pengantin akan melakukan ziarah ke makam Sunan Gunung Jati dan leluhur raja-raja Cirebon untuk mendapatkan restu.

Parasan
Setelah acara siraman, upacara dilanjutkan dengan acara parasan untuk calon pengantin wanita, atau ngerik yaitu membuang rambut halus yang dilakukan juru rias disaksikan oleh orangtua dan para kerabat. Acara ini diringi dengan musik karawitan moblong yang artinya murub mancur bagaikan bulan purnama.

Tenteng pengantin
Tibalah hari pernikahan yang telah disepakati, pihak gadis mengirimkan utusannya untuk menjemput calon pengantin pria. Setiba di rumah keluarga pria dan utusan menyampaikan maksud kedatangannya untuk menenteng (membawa) calon pengantin pria ke tempat upacara pernikahan di rumah pihak gadis. Orangtua pengantin pria tidak ikut dalam upacara akad nikah dan dilarang untuk menyaksikan. Pada waktu ijab qabul, calon pengantin pria ditutup dengan kain milik ibu pengantin wanita. Hal ini menandakan bahwa pria itu telah menjadi menantunya. Setelah selesai kain itu diambil kembali, yang menandakan bahwa pengantin sudah tidak lagi dalam perlindungan orangtua dan sekarang memiliki tanggung jawab sendiri.

Salam temon
Selesai akad nikah dilakukan upacara salam temon (bertemu). Kedua pengantin dibawa ke teras rumah atau ambang pintu untuk melaksanakan acara injak telur. Telur yang terdiri dari kulit, cairan warna putih dan kuning di dalamnya mengandung makna
 kulit sebagai wadah/tempat, putih adalah suci/pengabdian seorang istri, kuning lambang keagungan. Dengan begitu segala kesucian dan keagungan sang istri sejak saat itu sudah menjadi milik suaminya. Alat yang digunakan antara lain pipisan atau sejenis batu persegi panjang/segi empat yang dibungkus dengan kain putih. Pengantin pria menginjak telur melambangkan perubahan statusnya dari jejaka menjadi suami dan ingin membina rumah tangga serta memiliki keturunan. Pengantin wanita membasuh kaki suaminya yang melambangkan kesetiaan dan ingin bersama-sama membina rumah tangga yang bahagia. Sebelum membasuh kaki, pengantin wanita melakukan sungkem pada suaminya. Bila pengantin berasal dari keluarga yang cukup berada, biasanya saat acara salam temon ini diadakan acara gelondongan pangareng yaitu membawa upeti berupa barang (harta) yang lengkap.

Sawer atau surak
Acara ini diadakan sebagai bentuk ungkapan rasa bahagia orangtua atas terlaksananya pernikahan anak-anak mereka. Uang receh yang dicampur dengan beras kuning dan kunyit ditaburkan sebagai tanda agar kedua pengantin diberikan limpahan rezeki, dapat saling menghormati, hidup harmonis dan serasi.


Pugpugan tawur
Dengan posisi jongkok, kepala pengantin ditaburi pugpugan oleh juru rias. Pugpugan terbuat dari welit yaitu ilalang atau daun kelapa yang sudah lapuk. Acara ini bertujuan agar pernikahan dapat awet bagaikan welit yang terikat erat sampai lapuk serta keduanya dapat memanfaatkan sebaik mungkin rezeki yang mereka dapatkan dengan baik. Selesai acara, oleh juru rias, pengantin dibawa ke pelaminan. Orangtua pengantin pria lalu dijemput oleh kerabat dari pengantin wanita untuk bersama-sama mendampingi pengantin di pelaminan.

Adep-adep sekul (makan nasi ketan kuning)
Acara pengantin makan nasi ketan kuning ini dipimpin oleh juru rias. Nasi ketan kuning dibentuk bulatan kecil 13 butir. Pertama, orangtua pengantin wanita menyuapi pengantin sebanyak empat butir. Dilanjutkan dengan orangtua pihak pria memberi suapan sebanyak empat butir. Lalu empat butir lagi, kedua pengantin bergantian saling menyuapi. Sisanya satu butir untuk diperebutkan, siapa yang mendapatkan butiran nasi ketan kuning terakhir melambangkan bahwa dialah yang akan mendapatkan rezeki paling banyak .Namun rezeki ini tidak boleh dimakan sendiri dan harus dibagi pada pasangannya. Saat acara berlangsung, kedua pengantin duduk berhadapan yang melambangkan menyatunya hati suami-istri untuk membina rumahtangga bahagia. Selain itu, acara adep-adep sekul ini juga mengandung arti kerukunan dalam rumah tangga, yaitu terhadap pasangannya, orangtua, serta mertua.

Sungkem pada orangtua
Kedua pengantin melakukan sembah sungkem pada orangtua dengan cara mandap (berjongkok) yang merupakan cerminan rasa hormat dan terima kasih kepada orangtua atas segala kasih sayang dan bimbingan yang selama ini dicurahkan kepada anaknya. Kedua pengantin juga memohon doa restu untuk membina rumah tangga sendiri bersama pasangan. Setelah acara sungkem, dilagukan kidung Kinanti dengan harapan agar pengantin dapat menjalankan bahtera rumah tangganya seia, sekata, sehidup, semati.

Pemberian doa restu, ucapan selamat, dan hiburan
Setelah memperoleh restu dari orangtua, pengantin mendapatkan ucapan selamat berbahagia dari sanak kerabat yang hadir. Biasanya juga diadakan acara hiburan seperti tari-tarian yaitu tari topeng, tari bedoyo dan tari tayub.

 
Pernikahan Putra Mahkota Kasultanan Cirebon November 2013
 
Pasangan suami istri PR Luqman Zulkaedin dan Ratih Marlina (tengah)
 diapit kedua orang tua masing-masing di pelaminan. (sumber:suara gratia)

Raja Kesultanan Cirebon, Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadingrat, memiliki hajat besar. Yaitu menikahkan putra mahkota Elang Raja Luqman Zulkaedin yang mempersunting Ratih Marlina. Uang koin 3 Dinar dan 14 gram emas sebagai tanda mahar yang diberikan Luqman kepada Ratih saat akad nikah. Konon, pernikahan Luqman dan Ratih adalah pernikahan kesultanan pertama yang kembali menggunakan dinar sebagai mahar. Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Cirebon, menjadi tempat akad nikah Elang Raja Luqman Zulkaedin dan Ratih Marlina.

Saat pengucapan ijab qabul, Luqman tidak didampingi Ratih Marlina. Usai ijab qabul dibacakan dan dinyatakan sah oleh para saksi, Ratih baru memasuki ruangan akad nikah dan sungkem kepada Luqman, mengikuti tradisi Temon.  Setelah itu, Luqman menyerahkan mas kawin berupa seperangkat alat shalat, uang koin 3 dinar, dan 14 gram emas.

Prosesi dilanjutkan dengan penandatangan dokumen dan rombongan pengantin kembali menuju Bangsal Prabayaksa untuk melakukan adat pernikahan. Bak raja dan ratu, Luqman menggunakan pakaian adat khas keraton dengan tanda bunga di blangkon sebelah kiri, dan mahkota sebagai tanda pakaian khas keraton yang digunakan Ratih Marlina. Lambaian tangan dan senyuman bahagia tidak henti-hentinya ditunjukkan kedua mempelai sepanjang jalan menuju Bangsal Prabayaksa.

Tradisi pernikahan putra keraton ini seperti melihat miniatur kirab, karena rombongan kembali diiringi para prajurit dan pasukan sebagai adat khas keraton. Setibanya di Bangsal Prabayaksa, acara dilanjutkan dengan adat pernikahan yang menggunakan Bahasa Cirebon dan Bahasa Indonesia. Kedua mempelai pertama-tama sungkem kepada kedua orang tua masing-masing. Lalu keduanya melaksanakan prosesi adat injek tigan, banting kendi tutupe tigan dan adep-adep sekul. 

Selain seperangkat alat shalat sebagai mas kawin, ada koin uang 3 dinar dan 14 gram emas yang diberikan Luqman untuk Ratih. Ternyata, ada filosofi di balik mas kawin itu. Koin uang 3 dinar itu melambangkan rukun iman, islam, dan ihsan. Sedangkan, 14 gram emas simbol Sultan Sepuh XIV. Pemilihan dinar sebagai mas kawin untuk mengikuti sunnah Rasul. Dinar tersebut didapatkan dari pendirikan baitul mal di keraton yang mencetak koin dinar dan dirham. Satu dinar jika dirupiahkan senilai Rp2 juta, sedangkan satu dirham Rp70 ribu. Dinar dirham bukan mata uang satu negara, tapi mata uang syariah. Ini sebagai sunah nabi dan warisan Sunan Gunung Jati sebagai perintis syiar islam di Pulau Jawa

 
Powered By essa.com | Portal Design By Sindang Laut © 2010