Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified

Perjalanan Sepanjang Cirebon - Kuningan

Kabupaten Kuningan, selama ini dikenal dengan kekayaan wisata alam dan budayanya. Alam yang indah di kaki Gunung Ciremai, hawa yang sejuk, suasana pedesaan dan kota kecil yang khas, membuat Kuningan menjadi salah satu daerah yang layak jadi tujuan untuk berlibur. Dari sisi kuliner, jenis-jenis menu khas pasundan, dan olahan ikan Gurame yang paling mendominasi. Kuningan juga punya tahu yang tak kalah enaknya dengan Tahu Sumedang. Selain itu ada tape ketan berbungkus daun jambu, yang dikemas dalam ember hitam. Apa lagi yang menarik di Kuningan?

Mencapai Kabupaten Kuningan dari arah Jakarta, Anda bisa mengambil rute Pantura, hingga ke Cirebon, masuk tol Palimanan dan keluar di pintu tol Ciperna lalu ke arah Kuningan. Rute ini banyak dilalui kendaraan umum dari Jakarta, seperti Bus Jakarta-Cirebon, lalu melanjutkan ke Kuningan dengan mini bus atau Elf dari terminal Cirebon. Atau bus jurusan Jakarta-Kuningan via Cirebon.

Jika ingin menempuh perjalanan menggunakan jalur kereta api, Anda harus transit di Cirebon, lalu naik mini bus, atau Elf arah Kuningan atau Tasik dari Terminal Bus Harjamukti, Cirebon. Biasanya di dalam kereta sebelum berhenti di stasiun, ada kondektur yang menawarkan angkutan langsung dari Stasiun Cirebon ke Kuningan, jadi tak perlu repot naik angkot dan cari bus sendiri di terminal Cirebon.

Selain lewat Pantura, Anda juga bisa juga lewat jalur selatan, Jakarta – Bandung – Cileunyi – Cicalengka – Nagrek – Malangbong – Wado – Bantarujeg – Cikijing - Kuningan. Atau lewat Sumedang – Kadipaten – Palimanan – Cirebon – Kuningan.

Dari arah Cirebon, selepas daerah Ciperna, memasuki kawasan wisata Gronggong, jalanan akan mulai menanjak. Kawasan ini saat sore hingga malam hari biasanya dipenuhi pedagang-pedagang Jagung Bakar, kopi dan aneka makanan lainnya. Dari kawasan ini juga di malam hari Anda bisa memandangi kelap-kelip lampu di kota Cirebon, hampir sama dengan kawasan Gombel di Semarang. Saat akhir pekan biasanya tempat ini dipenuhi muda-mudi berpasang-pasangan, yang duduk-duduk di warung gubug menikmati Jagung Bakar dan minum Bandrek sembari melihat pemandangan kota Cirebon dari atas. Namun, saat siang hari daerah ini terlihat kurang tertata rapi, selain itu tempat ini juga disinyalir sering dijadikan tempat mesum dan transaksi prostitusi.

Lepas dari kawasan Gronggong, Anda akan memasuki daerah Beber, kecamatan di wilayah Cirebon yang berbatasan dengan Kabupaten Kuningan. Beber terkenal dengan Sate Kambing-nya. Ada cukup banyak warung Sate Kambing di daerah ini, namun yang tergolong paling besar adalah Sate Beber Simpang Tiga, yang letaknya di samping Masjid. Sate Beber, daging kambingnya diiris kecil-kecil dan hanya disajikan dengan bumbu kecap, dengan irisan cabe, rajangan bawang merah dan acar timun sebagai kondimennya (pelengkap). Dagingnya empuk, pertanda dari kambing berusia muda. Irisannya yang kecil membuatnya lebih matang sempurna saat dibakar. Selain Sate tempat ini juga menyediakan Sop Kambing.

Lepas dari Beber, Anda akan memasuki daerah Sampora yang sudah masuk wilayah Kecamatan Cilimus, Kuningan. Terus ke selatan arah Kota Kuningan, Anda akan menikmati suasana yang lain, udara sejuk khas daerah dataran tinggi, dengan sawah yang menghijau, atau keramaian pasar yang tak hanya dipenuhi kendaraan bermotor tapi juga delman. Tak jauh dari Cilimus, tepatnya di Desa Sangkanurip, Kecamatan Ciganda Mekar, ± 12 km dari arah Kuningan atau ± 23 km dari kota Cirebon, ada kawasan wisata pemandian air panas Sangkanurip. Kawasan wisata ini letaknya tak jauh dari jalan raya utama Cirebon-Kuningan, hanya sekitar 600 meter. Di kawasan ini terdapat beberapa hotel dari kelas melati hingga bintang tiga, yang juga dilengkapi dengan fasilitas air panas alami.


Nasi Merah dan Gurame. Di sekitar kawasan ini Anda bisa menemui banyak tempat makan, dua di antaranya yang cukup recommended adalah RM Laksana, letaknya tak jauh dari lokasi pemandian air panas, dan RM Alinda yang tak jauh dari Hotel Grage Sangkan. Keduanya mengandalkan menu olahan ikan Gurame.

Di RM Laksana, pada buku menu paling banyak tertera olahan-olahan Gurame, dari yang bakar, goreng, asam manis, sampai Gurame Tim Cobek, dan Sang waitress merekomendasi Gurame Khas Laksana yang katanya berbeda dengan olahan Gurame di tempat lain.

Tak terlalu lama menunggu, seporsi Gurame berukuran sedang, tersaji di meja, lengkap dengan sepiring nasi, yang ternyata merupakan nasi dari beras merah. Aroma bumbu Gurame menyeruak menggugah selera. Gurame ini sudah terlebih dulu digoreng baru kemudian disiram dengan kuah berwarna kuning, yang berbaur dengan warna merah dari cabe yang diulek kasar, tauge, dan sedikit warna hijau daun kemangi, yang tampaknya dimasak bersama kuahnya. Aroma dari daun kemangi yang berbaur dengan bumbu, dan ikan yang digoreng inilah yang membuat tak sabar untuk menyantapnya.

Rasanya juga memuaskan, masih ada rasa garing karena ikan telah digoreng terlebih dulu, bagian dalamnya dagingnya masih lembut, gurih, dan sedikit pedas. Apalagi disantap bersama nasi beras merah yang wangi, gurih, dan katanya lebih sehat. Jika di RM Laksana, Gurame Tim Cobek dan Gurame Khas Laksana yang diandalkan, di RM Alinda yang umum banyak dipesan adalah Gurame Bakar, dan Gurame Asam Manis.

Selain, pemandian air panas, dari lokasi ini Anda juga bisa jalan-jalan menikmati daerah pedesaan Sitonjul. Kawasan ini juga sudah dikelola menjadi daerah wisata, dengan trek sekitar 4 km, menyusuri areal pedesaan, yang meliputi dusun Simenyan, Tonjong dan Munjul.

Belum puas berkeliling di daerah Sangkanurip, Anda bisa melanjutkan perjalanan kembali kearah kota Kuningan. Selepas Sangkanurip, di Jl raya utama ke arah Kuningan ada beberapa rumah makan besar yang cukup ramai, di antaranya RM Ampera, cabang Kebon Kelapa Bandung, yang belum lama membuka cabang cukup besar di daerah Bandorasa Wetan, dan Lembah Ciremai Restoran di KM 4. Lembah Ciremai merupakan salah satu restoran terbesar di Kuningan, yang dilengkapi dengan meeting room berkapasitas 80 orang, dining room untuk 700 orang, VIP room untuk 30 orang, area lesehan untuk 150 orang, 8 buah saung yang cukup menampung 160 orang. Menu yang diusung di tempat ini standar saja masih Gurame Bakar, Gurame Asam Manis, dan Gurame bumbu Bali ala Lembah Ciremai, selain itu ada Seafood dan Chinese food.


Tape Ketan dan Jeniper. Sepanjang jalan menuju kota Kuningan, di kanan-kiri jalan banyak toko oleh-oleh yang memajang ember hitam, yang ternyata berisi oleh-oleh khas Kuningan, Tape Ketan. Yang berbeda dari tape Kuningan adalah rasa dan cara pengemasannya. Tape dibungkus kecil-kecil dengan menggunakan daun jambu air, dan dikemas dengan ember plastik berwarna hitam, isinya kurang lebih 100 bungkus. Tape ini disimpan dalam ember namun belum terfermentasi sempurna.

Pada tiap kemasan akan dicantumkan tanggal berapa tape ketan ini akan matang, atau terfermentasi sempurna. Sehingga bagi Anda yang berniat membelinya untuk oleh-oleh, bisa memperhitung, tape akan dikonsumsi saat telah matang Sempurna. Setelah lewat 3 hari dari tanggal yang tertulis, biasanya tape mulai kurang enak, terlalu sengar (terlalu tajam aroma dan rasanya), karena terlalu lama difermentasi. Supaya tape bisa bertahan agak lama, maka tape yang sudah masak direbus atau dikukus untuk menghambat proses fermentasi lebih lanjut agar tidak menghasilkan rasa pahit.

Sentra produksi tape ketan berada di wilayah Kecamatan Cibingbin dan Cibeureum. Tepatnya untuk Kecamatan Cibingbin berada di Desa Sindangjawa sedang untuk Kecamatan Cibeureum berada di Desa Cibeureum dan Desa Tarikolot, seperti tape ketan produksi Sari Asih, Binangkit, Pamela, Sari Rasa, Sari Madu.

Selain Tape Ketan, di Kuningan juga Jeniper sedang naik daun. Jeniper adalah singkatan dari jeruk nipis peras yang dikemas dalam botol seperti sirup, yang dibungkus dengan keranjang dari anyaman bambu. Jeniper ini, beberapa tahun belakangan ini memang sedang naik daun, sehingga muncul ungkapan Jeniper Lopes (jeruk nipis peres loba pesenan).

Kupat Tahu Ma Iroh. Yang disebut Kota Kuningan itu sendiri sebenarnya hanya sepanjang Jalan Siliwangi saja. Di jalan ini terdapat alun-alun dan Masjid Agung Syiarul Islam, pusat perbelanjaaan, sekolah, bank, sampai pendopo dan kantor-kantor pemerintahan. Atau bila ditinjau lebih luas Kota Kuningan mencakup kelurahan dan desa yang ada di Kecamatan Kuningan, karena di Kecamatan Kuningan terdapat fasilitas-fasilitas vital di Kabupaten Kuningan.

Tak jauh dari Masjid Agung Syiarul Islam, tepat di depan Gedung Olahraga, berdiri Taman Kota, yang menjadi area publik favorit bagi warga sekitar. Di sekitaran masjid banyak pedagang Kupat Tahu, namun satu tempat yang tak pernah sepi pengunjung adalah Kupat Tahu Ma Iroh, di Jl. Dewi Sartika, yang juga tak jauh dari Masjid dan Taman Kota. Kupat Tahu Ma Iroh sudah ada sejak lurang lebih 30 tahun lalu, dan kini karena Ma Iroh telah sepuh usaha diterusakn ke anak, menantu dan cucunya.

Dalam sehari sekitar 800 ketupat, atau 600 porsi Kupat Tahu terjual di sini. Kupat Tahu ini sebenarnya ketupat biasa, hanya berwarna lebih cokelat karena saat merebusnya diberi merang padi, dan rasanya pun jadi sedikit berbeda, disajikan dengan tahu goreng yang digoreng tidak terlalu kering, kemudian disiram dengan Sambal Kacang, dan kecap. Kacangnya diulek tidak terlalu halus sehingga masih banyak bulir kacang yang bisa tergigit. Yang membedakan Kupat Tahu Ma Iroh dengan tempat lain, adalah rasa Sambal Kacang-nya yang lebih mantap, dan diguyurkan dalam jumlah yang cukup banyak.

Tahu Khas Kuningan. Kuningan juga terkenal dengan tahunya. Tak jauh dari pusat kota, tepatnya di daerah Pasapen, ada banyak penjual tahu goreng khas Kuningan. Dari deretan pedagang tahu yang terlihat paling antre adalah Tahu Kopeci. Tahu Kuningan mirip dengan Tahu Sumedang hanya, perbedaanya, meski digoreng kering bagian dalamnya tidak kopong dan tetap lembut. Tahu ini juga dijual dengan kemasan keranjang bambu seperti Tahu Sumedang, dan biasa disantap dengan cabe rawit. Tahu Kuningan ini semakin mantap jika dicocol dengan Kecap Bango ditambah irisan cabe rawit.


RM Cipondok. Keluar dari Kota Kuningan terus ke arah Selatan, pada jalur arah Ciamis, masuk ke Kecamatan Kadugede, ada RM Cipondok, yang juga selalu ramai pengunjung apalagi saat hari libur. Rumah makan ini menyediakan aneka menu khas Pasundan, dari Ayam Goreng Kampung yang disajikan dengan lalapan dan Sambal Dadak, yaitu sambal dengan cabe, bawang dan tomat mentah, dan terasi bakar yang sedap. Gurame Bakar, Gurame Goreng, dan jangan ketinggalan Peucok Leuncah yang akan membuat mata Anda melek, karena rasanya yang asam, pedas segar, dan ada sedikit getir dari leuncahnya.

Baca Juga Yang Ini



 
Powered By essa.com | Portal Design By Sindang Laut © 2010