Translate This Blog

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Chinese Simplified

Objek Wisata Bumi Perkemahan Palutungan

Ada satu tempat bagus di Kuningan, yaitu Bumi Perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri. Tapi, hati-hati, di sana angker meski banyak pengunjungnya," kata seorang teman ketika ditanya tentang tempat wisata yang menarik dikunjungi di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Kepopuleran tentang keangkeran itu membuat tempat tersebut pernah dijadikan lokasi program uji keberanian yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta.

Kesan mistis adanya seorang putri yang menunggu daerah itu membuat banyak pengunjung yang datang dengan berbagai alasan lebih dari sekadar berwisata. Ada yang ingin segera dapat jodoh atau pekerjaan setelah mandi di bawah curug (air terjun). Aktivitas itu akan terasa ketika mendekati bulan puasa atau hari tertentu yang dikeramatkan.

Sardjono, bekas penjaga bumi perkemahan dan curug tersebut, mengemukakan, banyak warga masyarakat dan pengunjung yang menganggap tempat itu perlu didatangi, khususnya bagi mereka yang ingin meminta berkah. Padahal, katanya, semuanya itu tidak benar. Tempat tersebut murni sebagai lokasi air terjun yang bisa dinikmati untuk melepas penat dan melupakan sejenak aktivitas sehari-hari.

"Tapi, lama kelamaan anggapan itu mengganggu juga. Banyak calon pengunjung takut datang ke sini. Mereka takut terjadi sesuatu yang buruk," kata Sardjono lagi.

Indah, tapi kalah terkenal

Bumi Perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri terletak di Desa Palutungan, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Tempat wisata ini berada 1.100 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ini merupakan salah satu alternatif tempat liburan yang ada di Kuningan.

Meski mempunyai pemandangan indah, nama kedua tempat ini tidak sehebat tempat wisata lain di Kuningan, seperti Waduk Darma, Curug Si Domba, Sumur Tujuh Cibulan, Taman Purbakala Cipari, Kolam Ikan Dewa Cigugur, Gedung Linggarjati, dan Telaga Remis. Mitos keangkerannya sering kali lebih mudah dikenali ketimbang keindahannya.

Pemandangan dan aktivitas warga setempat dalam perjalanan ke lokasi itu merupakan sesuatu yang jarang ditemukan di kota besar.

Di kanan dan kiri jalan sekitar kaki Gunung Ciremai (3.078 mdpl), misalnya, banyak sekali lahan yang ditanami sayur-mayur dan budi daya sapi perah. Bahkan, jika beruntung, pengunjung bisa menyaksikan pemanenan, pembersihan sayuran, dan pendistribusian sayuran tersebut. Sementara itu, pemeluk agama Katolik, jika ingin sekaligus mendapatkan wisata religius, bisa menyempatkan diri ke Goa Maria Totombok, Cisantana.

"Tempat ini juga merupakan satu dari tiga jalur pendakian menuju puncak Gunung Ciremai. Meski merupakan jalur terpanjang, pendaki lebih memilih lewat sini karena merupakan rute paling mudah," kata Sardjono menceritakan.

Untuk bisa sampai ke bumi perkemahan dan Curug Ciputri, calon pengunjung dari Cirebon bisa melewati kota Kuningan yang berada di ketinggian 466 mdpl menuju Kecamatan Cigugur. Selain menggunakan kendaraan pribadi, pengunjung juga bisa menggunakan bus atau angkutan yang disebut travel (minibus).

Pengunjung asal Bandung bisa menggunakan bus ekonomi dengan tarif Rp 20.000 atau Rp 30.000 (bus eksekutif) menuju Cirebon. Dari Terminal Cirebon, perjalanan dilanjutkan dengan angkutan umum menuju Kuningan yang biayanya Rp 5.000 per orang. Di Kuningan pengunjung bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum bernomor 16 jurusan Kuningan-Palutungan.

Pengunjung asal Jakarta bisa menggunakan bus ekonomi (jurusan Kuningan) dengan tarif Rp 30.000 atau bus eksekutif yang bertarif Rp 40.000. Dari Kuningan, pengunjung bisa menggunakan jalur yang sama dengan jurusan Kuningan-Palutungan. Tarifnya Rp 2.000-Rp 3.000 per orang.

"Atau, bila mau, pengunjung yang datang dalam jumlah tidak besar bisa menggunakan ojek motor setibanya di Kuningan. Meski tarif lebih mahal, Rp 10.000-Rp 20.000 per orang, pengunjung bisa merasakan langsung angin sejuk selama perjalanan," tutur Sardjono.
Sesampainya di Palutungan, pengunjung yang datang dalam jumlah besar biasanya langsung memesan tempat untuk berkemah. Namun, pengunjung dalam kelompok kecil dan tidak ingin menginap bisa langsung ke Curug Ciputri.

Sardjono menambahkan, Bumi Perkemahan Palutungan dan Curug Ciputri merupakan tempat di Kuningan yang sepenuhnya dibuat oleh alam. Bumi perkemahan dibuka terlebih dahulu sekitar tahun 1984, sedangkan kawasan Curug Ciputri dibuka untuk umum pada tahun 1989.
Dengan luas sekitar 9 hektar dan dikelilingi pohon pinus, bumi perkemahan menjadi tempat menarik untuk menghabiskan malam. Bahkan, bila jenuh, malam hari pengunjung bisa keluar dari area perkemahan untuk melihat gemerlap lampu Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan dari jalan Desa Palutungan.

Setelah menikmati malam, pagi harinya pengunjung bisa mandi di bawah curug yang mempunyai mata air jauh di dalam hutan Gunung Ciremai. Mereka yang ingin menikmati sensasi lebih bisa mandi di bawah curug yang ketinggiannya mencapai 12 meter.
Mereka yang ingin berendam bisa memanfaatkan bendungan air yang terdapat di undakan kedua aliran sungai.

sumber : veltic.blogspot.com
 
Powered By essa.com | Portal Design By Sindang Laut © 2010